Berikut laporan pandangan mata mengenai Seminar Nasional Geomorfologi yang didedikasikan untuk Mbah Otto 9 dalam 33 tahun kiprah beliau di LIPI. Laporan di bawah ini ditulis oleh PakDhe DNN 71, seperti di-copy-kan dari milist Geologi UGM
————————————————————————————

O ya, saya sudah kalah duluan dari pak Agus Hendratno dalam melaporkan tentang Seminarnya mas Otto tsb (triple 9, karena diselenggarakannya ditepatkan pada 9-9-’09). Kalau tidak salah mengamati, rasanya saya satu2nya alumnus TG UGM yang hadir, selain “sang pengantin” (Prof Otto SR Ongkosongo) dan pejabat Jurusan TG UGM ( Mas Agus Hendratno); pak Otto sudah jelas menjadi pemeran sentral, sedang pak Hen menjadi pembicara (termasuk pembicara2 yang pertama dengan 2 topik yang sangat menarik).
Dengan 3 orang alumni TG UGM disitu, dimana yang dua sangat berperan, maka sebagai “yang hadir dan menyaksikan”, tentunya sayalah sebetulnya yang lebih ber “kewajiban moral” utk melaporkannya. Sebetulnya di seminar pada tanggal 9 tersebut saya rencanakan malamnya akan segera menuliskannya di mail-list ini, tapi biasa, karena waktu itu masih malam-malam nya bulan puasa, jadi terasa waktu cepat habis saja, sedang pagi2 berikutnya (tgl 10 Sept) harus sudah berangkat lagi karena ingin mengikuti field trip dalam rangka Seminar itu. Jadilah, lalu tertunda melaporkannya sampai pak Hen, alhamdulillaah, menuliskannya.
Acara itu memang ternyata “dedicated” untuk 33 thn kiprah pak Otto di LIPI, dari menilik judul (panjang) nya saja yang ternyata berbunyi: “SEMINAR NASIONAL GEOMORFOLOGI (Jakarta , 9-9-2009), Geomorfologi Dalam Pembangunan Berkelanjutan, 33 tahun pengabdian Prof.Dr.Ir. Otto S.R. Ongkosongo, BE”.
Dari yang hadir dan pemaparan2 yang ada juga terlihat betapa pak Otto ditokohkan pada hari itu.
Prof Aprilani yang sekarang sudah sepuh, juga hadir dan menyampaikan penghargaan beliau ke pak Otto dan menyatakan bahwa beliaulah yang menerima pak Otto dulu pertama kali di LON ketika alumnus kita itu masih sebagai sarjana muda. Memang, jaman itu sarmud juga sudah laku, alhamdulillah seperti saya sendiri. Saya ingat, pak Otto yang sudah pegawai LON itu kemudian akhirnya mengikuti “ujian pendadaran sarjana”, di Jetis, dan lulus, dan karena kesyukurannya, putrinya yang baru lahir diberinya nama yang mengabadikan nama LON dan Univ. Gadjah Mada.
Kembali ke Seminar itu. Disamping dari LIPI, presentasi2 diberikan dari berbagai pihak, a.l. ahli-ahli dari Fakultas Geografi UGM, dari Bakosurtanal, juga oleh seorang guru SMP yg mengajar Geografi, dan lain-lain, tapi yang sangat penting oleh saya, tentu saja, dari pak Otto dan dari pak Gus Hen.
Pak Otto, seperti biasa, dengan konsistennya mengingatkan tentang “warisan titipan utk manusia” yang harus dijaga dan hal-hal berkenaan dengan konservasi (kiranya mas Otto sendiri bersedia dan tdk bosan menyampaikannya lagi dlm forum mail list ini atau di forum lain kepada para alumni). Dalam paket seminar, disertakan juga buku susunan pak Otto yang berisi beberapa dasar filosofi yang diberinya judul: ”PEPELING untuk bersahabat dengan lingkungan hidup”.
Pak Agus Hendratno menyampaikan hal-hal menarik seperti pilihan untuk menghasilkan devisa dari geologi, bisa dengan “memeras geologi utk hasilkan devisa”, atau “meng-konservasi geologi utk hasilkan devisa”.
Gus Hen juga menyampaikan bahwa biasanya yang diingatkan utk di-konservasi adalah Flora dan Fauna saja. Juga bahwa issues tentang “bio-diversity” dan “culture-diversity” telah menjadi lebih dominant daripada “wadahnya”, yaitu, menurut beliau: “Geodiversity”.
Gus Hen juga sampaikan topik lain, yaitu tentang gejala alam yang ditemuinya di Nusa Tenggara. Beliau kunjungi suatu pulau yang diperkirakan adalah bekas gunung api, dengan kawahnya yang sekarang menjadi danau yang terpisah dari laut hanya beberapa meter, tetapi kedua tubuh air itu (danau dan laut) menunjukkan kondisi yang sangat berbeda, paling tidak dalam salinitasnya, dan ekosistemnya.
Pulau itu dianggap terletak dalam apa yang dinamakan “kawasan Wallacia” (“Wallace area”).
Tentang pulau itu, beberapa hari yll, dimuat di “Koran Jakarta”, maklum wartawannya mengikuti seminar itu dan field trip nya.
Hari berikut dari seminar itu, Kamis 10 Sept ’09, diselenggarakan field trip dengan sebuah bis kecil, ke daerah Bojonegara, Serang, Banten. Karena pak Otto ada acara penting yang lain, maka Gus Hen menjadi leader dalam memberi ulasan tentang kenampakan geomorfologi yang ditemui, sambil tentu dengan kehausan karena berpuasa. Sedang bertindak sebagai organizer adalah Dr Sensus Wijanarko, adik kandung pak Otto, dibantu oleh mbakyu Otto sendiri.
Demikian sekilas laporan, berikutnya mohon, pak Otto dan pak Agus Hendratno bisa mengkoreksi apa yang saya sampaikan bila tdk seperti yang sebenarnya bpk2 maksud. Maklum, karena ber-tahun2 terakhir ini kegiatan saya tdk terpusat pada keilmuan geologi dlm artian yang biasa dimaksudkan, jadi maaf kalau salah.
Memang, saya hadir selama 2 hari di acara itu, dengan motif penuh rasa penghargaan, dan tidak dengan pretensi sebagai ”ahli geologi” tapi lebih dengan sikap batin sebagai, katakanlah, ”hobbyist geologi” saja, yang pernah dan masih menyukai Geomorfologi (makanya dengan bersemangat, saya pernah menjadi assistennya alm mas Iman W. Sumarinda dalam Geomorfologi beberapa puluh tahun silam).
Sekali lagi terima kasih buat pak Otto yang telah mengundang ke acara yang bermanfaat ini. Selamat atas pengabdian 33 tahunnya, semoga menjadi amal sholeh. Peran pak Gus Hen dalam mendukung acara itu dengan ikhlas juga begitu penting; semoga juga menjadi amal sholeh.
Wassalam.
Jakarta, 28 September 2009
DNN’71