Diambil dari Republika Online, Minggu, 22 November 2009 pukul 07:54:00 (http://www.republika.co.id/koran/0/90907/Paman_Dongeng_Geologi). Mas Rovicky Dwi Putrohari (RDP) adalah alumni Geologi UGM angkatan 1982.
————————————————————————————-
Setelah beberapa daerah di Indonesia beruntun diguncang gempa, sebagian masyarakat dihantui rasa khawatir akan terjadinya dampak lebih dahsyat dari pergeseran lempeng bumi. Seolah ingin menambah panik, sebuah kabar menyebut pada 24 Oktober 2009 lalu, Jakarta diramalkan kena gempa 8,5 pada Skala Richter dan banjir rob. Yang memercayainya tentu tak tenang menghadapi tanggal tersebut dan lega setelah mendapati itu hanya isapan jempol.
Bagi kalangan yang memahami gempa, informasi menyesatkan macam itu tentu dianggap angin lalu. Tetapi, bagaimana dengan masyarakat awam? “Untuk itulah tokoh Thole dan Pak Dhe diciptakan,” ungkap Rovicky Dwi Putrohari, ahli geologi.
Thole adalah anak yang punya ketertarikan tinggi pada fenomena perut bumi. Ia beruntung memiliki seorang Pak Dhe yang banyak tahu. “Lewat dialog antara Thole dan Pak Dhe itulah saya menjelaskan berbagai peristiwa alam terkait aktivitas geologi,” kata Rovicky. Pak Dhe selalu saja punya jawaban atas pertanyaan kemenakannya itu. Pria kelahiran Yogyakarta, 12 Maret 1963, ini menjelaskan tanpa menggurui. “Pilihan kata-katanya sederhana agar mudah dipahami pembaca situs Dongeng Geologi ,” papar Rovicky si Paman Dongeng.
Masyarakat antusias sekali membaca cerita-cerita Dongeng Geologi . Ratusan orang mengakses kisah yang ditulis Rovicky di rovicky.wordpress.com . “Agar makin mudah dipahami, saya sertakan banyak gambar ilustrasi,” imbuhnya. Dongeng Geologi dibuat Rovicky di sela-sela waktu senggangnya sebagai konsultan geologi di Hess, sebuah perusahaan perminyakan. Ia ingin masyarakat lebih mengenal gejala alam sekitar. “Saya hanya ingin berbagi ilmu untuk masyarakat awam agar mereka tidak mudah terprovokasi oleh berita yang tak jelas sumbernya,” katanya.
Meramal gempa
Di situsnya, Rovicky juga meramal gempa. Gempa memang bisa diprediksi. “Namun, tak akan ada yang bisa secara pasti menduga kapan terjadinya,” katanya.
Berbekal pengetahuan itu, masyarakat dapat dengan santai mengabaikan ramalan gempa yang menyebut tanggal. Di samping itu, Rovicky juga menjelaskan mustahil Jakarta menjadi pusat gempa. “Jakarta bukan daerah zona gempa,” jelasnya. Pusat gempa berada di Laut Selatan. Itu pun tergolong gempa dalam. Jadi, tegasnya, kalau warga Jakarta terguncang, yang mereka rasakan hanyalah penjalaran gempa.
Bagaimana dengan ramalan kiamat pada 2012? Ketika itu, berlangsung peristiwa yang unik secara astronomi. “Planet-planet berada sebaris,” ungkap Rovicky yang kerap menjadi dosen tamu di sejumlah universitas. Deretan planet yang sebaris tersebut menyebabkan adanya gaya gravitasi yang terfokus. Hanya saja, apa dampaknya dan sebesar apa tak ada yang betul-betul bisa memprediksi. “Sejak empat miliar tahun lalu, setua usia bumi, kejadian serupa pernah terjadi,” jelas Rovicky yang hobi menulis dan fotografi.
Tragedi lumpur
Nama Rovicky makin dikenal sejak tragedi lumpur Sidoarjo, Jawa Timur, meletup. Sejak awal kejadian, ia berupaya mencatat secara detail tiap kejadiannya di laman hotmudflow.wordpress.com . “Dua minggu setelah kejadian saya langsung membuat situs ini,” katanya. Insting Rovicky mengatakan kejadian itu akan menjadi isu besar. Alumnus Universitas Gadjah Mada (UGM) ini pun rajin membuat catatan harian. “Karena ada riwayat kronologisnya, data di hotmudflow diajukan sebagai data penelitian beberapa orang,” ucapnya.
Rovicky melihat semburan lumpur yang bermula dari galian PT Lapindo itu tak sepenuhnya murni disebabkan faktor gelologi. Human error punya peran imbang (50 persen) di dalamnya. “Bisa dikatakan itu adalah fenomena alam yang dipicu faktor manusia,” katanya. Rovicky yakin semburan lumpur panas itu akan berhenti dengan sendirinya. Hanya saja, itu tak bisa dipastikan kapan waktunya. “Sebaiknya warga memang direlokasi dan di lokasi terdampak semburan didirikan monumen, lalu dijadikan objek wisata ilmiah,” usulnya.
Informasi
Rovicky berupaya menyajikan pembahasan ilmiah terkini tentang fenomena geologi yang tengah berlangsung. Ia memanfaatkan tiap momentum itu agar masyarakat mendapatkan informasi yang tepat. “Nah , kalau sekarang, belum saatnya saya bicara banjir. Orang akan lupa kalau disampaikan sekarang. Tetapi, saat sudah waktunya, pelajarannya lebih mudah diingat,” katanya.
Terkadang, Rovicky juga sedikit menyerempet ke hal yang berbau klenik. Seperti ilmu titen yang menyebut kaitan gempa dengan purnama. “Kaitannya mungkin saja ada, tetapi kecil,” jelasnya. Mengembangkan situs geologi yang banyak dikunjungi pembaca, Rovicky sempat kesulitan menanggapi komentar pengunjung. Apalagi, dulu ia pernah mencantumkan nomor ponselnya. “Saya kewalahan merespons melalui ponsel,” kenangnya.
Rovicky kemudian memindahkan jalur komunikasi kembali ke dunia maya. E-mail maupun komentar onlinebertubi-tubi masuk. “Di antara e-mail yang masuk setiap hari, ada dua-tiga siswa yang minta dibimbing dalam penyelesaian tugas sekolahnya,” katanya. Rovicky mengaku cukup repot melayani e-mail-e-mail tersebut. Tetapi, ayah dari Irsha Primanda dan Devi Dwiputranto ini akan selalu memberikan balasan. “Begitu sempat, saya langsung kirim jawaban. Saya tak suka menunda-nunda pekerjaan,” akunya.
Online nyaris 24 jam, apakah Rovicky pernah dikomplain keluarga? Suami dari Yuenda Vicky Larasati ini mengaku keluarga sudah memakluminya. “Apalagi, kami semua memang blogger , termasuk istri saya.” reiny dwinanda.









